TANGSELMETRO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat 6.147 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) per Sabtu, 24 Oktober 2026. Jumlah tersebut dilaporkan mengalami sedikit peningkatan dalam pemantauan mingguan.
Di tengah temuan ribuan kasus tersebut, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menyatakan wilayahnya tidak terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, pemerintah daerah tetap mewaspadai sumber pencemaran udara lain, termasuk pembakaran sampah oleh warga.
Benyamin mengatakan, meskipun Tangsel tidak terdampak asap karhutla, upaya mitigasi lingkungan tetap dilakukan. Pasalnya, praktik pembakaran sampah secara lokal masih ditemukan di sejumlah lokasi.
“Meski tidak terdampak imbas asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pihaknya tetap melakukan mitigasi lingkungan hidup. Meskipun bebas karhutla, masih ditemukan oknum warga yang melakukan pembakaran sampah secara lokal,” ujar Benyamin.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah telah melakukan penanganan terhadap lokasi penampungan sampah ilegal yang diketahui melakukan pembakaran. Pemkot Tangsel juga menjalankan program penghijauan melalui penanaman pohon pelindung di sejumlah wilayah, termasuk kawasan bantaran sungai.
“Pemkot juga melakukan pengawasan ketat terhadap pohon-pohon pelindung di Tangsel demi menjaga kualitas udara,” ucap Benyamin.
Sementara itu, Kepala Dinkes Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan peningkatan kasus ISPA belum signifikan. Tren kasus tersebut, menurut dia, masih relatif sama dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Peningkatannya belum signifikan. Kondisinya masih relatif sama dengan periode yang sama tahun lalu,” ujar Allin.
Meski demikian, kualitas udara yang sempat masuk kategori tidak sehat menjadi perhatian karena paparan polusi dapat memperburuk gangguan pernapasan. Namun, diperlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan hubungan antara kondisi kualitas udara dan tren kasus ISPA di Tangsel.
Dinkes Tangsel mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mengurangi paparan polusi udara, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.
Selain ISPA, petugas kesehatan juga memantau potensi penyakit lain, seperti diare dan demam berdarah dengue (DBD).
“Masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala gangguan kesehatan, termasuk ISPA dan diare,” kata Allin.
Masyarakat juga diimbau rutin mencuci tangan, menjaga daya tahan tubuh, serta menghindari paparan asap pembakaran sampah. Warga yang mengalami gejala gangguan pernapasan sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Temuan 6.147 kasus ISPA tersebut menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap faktor risiko gangguan pernapasan, sekaligus memperkuat upaya menjaga kualitas lingkungan di Kota Tangerang Selatan.






